MENAFSIRKAN AL QURAN DENGAN BENAR

>>>About this site (click here)<<<  

Bagi para penganutnya, semua agama tentu memiliki prinsip dan ajaran yang mulia. Namun tak dapat dipungkiri bahwa perbedaan dalam ajaran agama-agama tersebut seringkali menimbulkan konflik antar penganutnya, terlebih pada agama-agama samawi. Dimasa lalu sejarah menunjukkan berbagai konflik besar atas nama agama yang mengakibatkan jatuhnya jutaan korban jiwa. Dimasa kini kita masih saja melihat konflik konflik berdarah mengatasnamakan agama, yang terkadang bercampur dengan kepentingan politik.

Setiap agama memiliki klaim kebenarannya masing-masing. Dalam agama samawi, wahyu Tuhan yang diklaim diterima seseorang yang disebut nabi adalah sumber kebenaran itu. Masalah timbul ketika agama yang satu tidak mengakui wahyu yang diterima oleh tokoh agama lain. Yahudi tidak mengakui Isa, Nasrani tidak mengakui Muhammad, dan Islam tidak mengakui Mirza Qulam Ahmad (Ahmadiah) ataupun Baha'u'llah (Bahai) sebagai penerima wahyu Ilahi. Hal ini mengakibatkan konflik ideologi dan perdebatan untuk mempertahankan klaim kebenaran masing-masing.

Bicara mengenai pewahyuan, adalah berbicara tentang kepercayaan dan keyakinan, seringkali tidak ada bukti disana. Bicara mengenai kitab suci, adalah berbicara tentang penafsiran. Sama sama meyakini kebenaran kitab suci yang sama, akan terdapat perbedaan penafsiran, apalagi dengan kitab suci yang berbeda, dengan keyakinan dan penafsiran yang berbeda pula. Meskipun memiliki Taurat yang sama, Yahudi dan Nasrani memiliki penafsiran yang berbeda. Meskipun memiliki Al Quran yang sama, Syiah dan Sunni memiliki penafsiran yang berbeda. Ini baru antar golongan, apalagi antar individu. Gus Dur dan Abu Bakar Baasyir bisa jadi berbeda dalam menafsirkan apa itu jihad dan bagaimana prakteknya.

Secara psikologi, ideologi terutama ideologi agama, menempati posisi terdalam pada jiwa manusia. Oleh karenanya banyak orang yang emosional jika nilai kebenaran yang diyakininya terusik, dan berusaha mempertahankan mati matian ideologi yang dianggapnya benar. Maka dalam perdebatan dan konflik ideologi seperti ini diperlukan kearifan dan keikhlasan untuk memahami dan menerima perbedaan tersebut, meski kita tidak mempercayainya.

Adanya perbedaan dan kemudian berlanjut ke perdebatan adalah hal yang wajar. Namun jika perbedaan berlanjut ke konflik fisik, hingga terjadi saling bunuh, hal inilah yang perlu dipertanyakan. Karena agama menempati tempat terdalam di jiwa manusia, maka agama dapat membuat orang rela mati dan membunuh bagi agamanya, kita dapat melihat gejala psikologi ini pada pelaku Bom Bali, dan pelaku bom bunuh diri lainnya.

Lalu apa yang salah? Mungkinkah Tuhan dan agamaNya memerintahkan untuk membunuh orang-orang yang tak beriman kepadaNya? Bukankah umat beragama meyakini jika Tuhan adalah maha pencipta, yang menciptakan semua perbedaan ini, dan tidak menciptakan manusia seragam dan seagama? Andaikan benar hanya satu agama yang benar, bukankah mudah bagi Dia untuk memberikan hidayah kepada setiap orang sehingga menjadi seagama. Bagaimana dengan orang-orang yang tak mengenal agama, yang hidup dipedalaman, yang terisolir dari dunia luar, apakah Tuhan menciptakan mereka hanya untuk dibakar dalam api neraka?

Lalu jika Tuhan berkata dalam Al Quran “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu (QS at-Taubah (9):123)”, apakah maksud dari ayat tersebut? Dalam Al Quran kita dapat menemukan begitu banyak ayat perang, yang kini digunakan sebagai pedoman oleh banyak kelompok radikal dalam melakukan aksinya. Kita mengenal Imam Samudra dkk, Jamaah Islamiah, Al Qaeda, dsb. Apakah orang-orang seperti Imam Samudra dan Abu Bakar Baasyir salah dalam menafsirkan perintah Allah. Apakah ayat-ayat Al Quran ini hanya  berlaku untuk konteks masa lalu, dan sudah tidak berlaku di masa kini?

Apakah ribuan muslim Arab anggota ISIS telah diperalat hingga mau menyelewengkan Al Quran demi kepentingan tertentu? Bukankah Islam itu rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi semesta alam, namun mengapa yang terjadi justru sebaliknya, sejak kelahirannya Islam menjadi sumber konflik berdarah, mulai dari konflik dengan kafir Quraish, hingga konflik dengan sesama kelompok Islam (sunni-syiah-ahmadiah) dan konflik dengan kepercayaan lain. Inilah pertanyaan mendasar yang akan dicari jawabannya dalam situs ini.

Situs ini hanya menyajikan kembali sejarah yang tertulis dalam kitab-kitab sejarah Islam seperti kitab Ibnu Hisyam, Ibnu Ishaq, Tabari, Ibnu Sa’ad, atau kitab hadist seperti Bukhari dan Muslim dan kitab hadist lainnya. Situs ini menyajikan seobyektif mungkin data sejarah tersebut, dan membandingkannya dengan kitab-kitab tafsir Al Quran, seperti tafsir Ibnu Katsir, Al Jalalin, dsb. Dengan melihat secara obyektif sejarah awal mula Islam, dan dengan melepas kacamata keagamaan, kita dapat menilai, apakah orang orang seperti Imam Samudra dan kawan-kawan, telah salah menafsirkan Al Quran atau justru sebaliknya. Semoga kita tidak terjerumus dalam radikalisme, kesesatan maupun kesalahan yang fatal akibat kekurang tahuan kita dalam mempelajari agama. Amin.

Artikel selanjutnya:

Sejarah Singkat Nabi Muhammad SAW (klik)

..

..BERIKAN KOMENTAR
..ANDA PADA KOTAK
..DI BAWAH INI :



Use avatars to show off your personality and favorite things.


..
Untuk DISKUSI atau
..DEBAT
, silahkan klik
..link dibawah ini:

FORUM DISKUSI DAN DEBAT ISLAM
.