AGAMA, SAINS DAN MANFAATNYA BAGI KEMANUSIAAN ~ FORUM MURTADIN INDONESIA

AGAMA, SAINS DAN MANFAATNYA BAGI KEMANUSIAAN

Banyak email yang dikirimkan kepada kami yang mempertanyakan tujuan akhir dari pembuatan situs ini, Sekali lagi kami hanya ingin membagikan informasi yang berimbang dan netral mengenai Islam dan ajarannya, meski tak dipungkiri terdapat subyektifitas kami sebagai orang orang yang telah meninggalkan Islam. Tujuan akhirnya, akan kita temui diakhir tulisan ini. Kami tidak mengajak anda untuk mempercayai tuhan tertentu atau tidak mempercayai tuhan tertentu, namun untuk sejenak berpikir, apakah manfaat atau mudharatnya ketika seseorang beragama atau tidak beragama.

Stephen Hawking, salah seorang fisikawan besar, mengatakan kalau fisika modern telah mencapai sebuah titik dimana kita tidak perlu lagi adanya tuhan untuk memahami alam semesta sekitar kita. Tuhan tidak muat lagi untuk diselipkan dalam celah2 dalam fenomena alam yang belum terjawab. Ketika sains belum berkembang seperti sekarang ini, hampir semua dicap "Tuhan". Pohon, batu, benda2 langit, disembah, karena faktor ketidaktahuan. Badai, gempa, gerhana, tsunami, penyakit, epidemi, dianggap sebagai azab.

Ketidaktahuan, dianggap sebagai tuhan. Orang-orang menyebutnya “God of the gaps”, tuhan yang berfungsi menambal lubang / celah di ilmu pengetahuan. Dahulu, sains tidak bisa menjawab apa itu Matahari, maka celah itu diisi dengan tuhan. Setelah sains bisa mengetahui dengan pasti apa itu Matahari, maka tuhan yang tadinya mengisi celah tersebut dibuang. Agama selama ini berusaha mendapatkan dukungan sains, tentang terbelahnya bulan , lapisan bumi, lapisan atmosfer, embriologi manusia, terbelahnya laut merah, dan sebagainya. Walaupun telah dibantah oleh sains kalau itu salah, tetap saja tafsiran-tafsiran baru bermunculan. Di sisi lain, sains masih banyak punya misteri untuk dipecahkan, masih ada celah untuk dijawab, alam semesta, UFO dan hantu misalnya, dan disinilah agama menyusup.

Dua milenium lalu sains tidak mampu menjelaskan kenapa seseorang bisa sakit, sekarang berbagai jenis anti virus serta segala jenis antibiotik mencegah kita terkena infeksi kuman. Dua milenium lalu, agama menawarkan penjelasannya. Orang sakit karena kutukan, karena dosa, karena cobaan tuhan, dan sebagainya. Dulu Bible menyiratkan jika Matahari berputar mengelilingi Bumi, hal yang sama ditiru juga oleh Al-Quran, namun akhirnya sains membuktikan hal sebaliknya, bumi lah yang berputar mengelilingi matahari. Lalu tafsiran kitab suci pun berubah mengikuti sains. Ketika sains berbicara, bagaimana penganut agama menyikapinya? Copernicus misalnya, mengakui Bible bukanlah buku sains, tapi buku iman. Pemahaman Musa, penulis Taurat bisa saja salah tentang astronomi, sejarah, atau tentang hal2 lain, karena memang Musa tidak berbicara tentang sains, dan pemahaman sains Musa belum semaju seperti sekarang ini. Musa berbicara mengenai iman, berbicara mengenai kemanfaatan Tuhan.

Bagaimana dengan Al-Quran, yang mengklaim merupakan perkataan Tuhan kata perkata dan salinan kitab di surga? Jika banyak hal dalam Al-Quran dibuktikan salah secara sains, berkontradiksi dan inkonsistensi satu ayat dengan yang lain, apakah Tuhan salah, apakah Tuhan tidak mahatau, padahal oleh yang mempercayai ia disebut yang maha mengetahui. Inilah sisi paradoksal Al-Quran jika dihadapkan dengan sains, sehingga jika tafsir lama bertentangan dengan sains, maka dibuatlah tafsiran-tafsiran baru yang dipaksakan untuk merevisi tafsiran lama. Penjelasan paling masuk akal terhadap kekonyolan ini adalah bahwa sumber Al-Quran berasal dari pemikiran manusia, namun hal ini tentu tak akan kita terima.

Jika sains sudah mengisi celah ketidaktahuan manusia, dan secara empiris bisa dibuktikan, masihkah kita mempercayai agama? Tampaknya titik temu antara sains dan tuhan masih terlalu jauh untuk dicapai. Agama berdasar pada keyakinan, sedangkan sains mendasarkan dirinya pada keraguan. Lalu apa manfaatnya Tuhan, apa manfaat beragama? Hawking berpendapat kalau sains akan menang terhadap agama karena sains memang berhasil menyelamatkan hidup kita dari dulu. Tapi bagi mereka yang beragama, iman juga demikian, ia menjadi pengisi celah psikologis, bukan lagi pengisi celah sains. Ia berevolusi menuju sebuah posisi yang lebih sulit lagi dijamah sains. Tentang apakah sains dapat membuktikan Tuhan ada atau tidak ada, itu kembali pada subyektifitas setiap individu manusia.

Kemanfaatan Tuhan secara pskilogis inilah yang mendorong manusia modern masih beragama, mendorong manusia untuk peduli kepada dirinya sendiri, peduli terhadap orang lain dan peduli terhadap bumi yang didiaminya. Tak dapat dipungkiri, nilai-nilai kebaikan universal berasal dari agama, berasal dari kepercayaan terhadap hal-hal supranatural. Masyarakat animisme dinamisme, memandang alam sebagai sesuatu yang memiliki jiwa, sehingga mereka menjaga hubungan baik dengan alam. Konsep surga dan neraka dalam agama samawi, atau konsep reinkarnasi dalam agama India, juga menuntun manusia agar tidak merugikan sesamanya.

Jika beragama yang merupakan ranah privat seseorang, namun merugikan orang lain di ranah publik, inilah yang harus dikritisi. Ketika memerangi orang yang tidak beragama atau yang berbeda konsep ketuhanannya, disebut perbuatan baik dalam agama tertentu. Ketika melakukan bom bunuh diri untuk mencelakai orang lain disebut sebagai perintah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dimanakah asas kemanfaatannya? Sebagai orang yang telah meninggalkan Islam, kami mengetahui standar ganda penafsiran Islam. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) (QS 2:256) disatu sisi, dan, Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu (QS 9:123) disisi lain.

Secara jujur harus diakui, dalil Islam menetapkan bahwa semua golongan diluar Islam adalah kafir, apapun agamanya. Kaum kafir secara garis besar dibagi menjadi 3 kelompok, kafir harbi, kafir perjanjian dan kafir dzimmi. Kafir harbi adalah orang yang menolak Islam, wajib hukumnya untuk diperangi. Kafir perjanjian adalah seorang kafir yang dengan kesepakatan bersama, tidak akan dibunuh, juru runding peperangan contohnya. Kafir dzimmi adalah kafir yang tunduk pada syariat Islam dan membayar upeti (jizyah) kepada penguasa Islam.

Adakah kafir yang secara sukarela menjadi kafir dzimmi? Tunduk pada syariat dan membayar jizyah? Tentu tidak ada, kafir dzimmi adalah karena keterpaksaan, pilihannya adalah mati dengan keyakinan kafirnya, menjadi mualaf dan menjadi pengikut Islam, atau tetap memegang keyakinan lama, namun tunduk pada pengekangan hukum Islam dengan membayar jizyah. Jadi dari sini kita mengetahui, semua orang diluar Islam pada awalnya adalah kafir harbi, wajib diperangi, sampai mereka mau tunduk dibawah hukum Islam. Lalu dimanakah “Kemanusiaan yang adil dan beradabnya”?

Pengikut agama2 lain, terutama samawi, juga melakukan kekerasan, namun apakah yang membedakannya dengan Islam? Nasrani misalnya, dalam sejarah abad pertengahan mengenal adanya perang Salib, tapi apakah dalil agama mereka seperti itu? Apakah Isa mengajarkan peperangan? Baik dalam Al-Quran ataupun Injil kita tidak akan mendapati kisah Isa yang berperang ataupun Isa yang memerintahkan berperang. Dalam Injil, Isa berkata mengenai membawa pedang, namun menurut tafsir Nasrani ayat tersebut hanya metafora, karena dibagian lain Isa berkata: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang”.

Jika tidak ada dalil mengangkat senjata atas nama agama dalam ajaran Nasrani, lalu bagaimana dengan Perang Salib? Sejarah menunjukkan perang ini pada dasarnya adalah keputusan politik yang melibatkan gereja, yaitu sebuah respon untuk melawan invasi penakluk Islam, dimana penakluk Islam yang berawal dari Arab telah berhasil masuk sampai tanah Eropa. Perang Salib adalah perang untuk melawan penaklukan dan penjajahan oleh Islam.

Setelah Konstatinopel jatuh ke Khalifah Turki Utsmani (Ottoman) dan masyarakat Eropa semakin kesulitan mendapatkan rempah2 melalui jalur darat, maka Portugal dan Spayol berlomba2 melakukan ekspedisi penjelajahan samudra untuk melakukan perdagangan langsung dengan sumber rempah2. Dunia kemudian mengenal Colombus, Vasco Da Gama, ataupun Magellan. Sejarawan Amerika Louis B. Wright pada tahun 1970 menulis uraian tentang motif Colombus dengan ekspedisinya, dengan sebutan Gold, Glory, and Gospel, hingga akhirnya istilah tersebut mendunia. Louis mengutuk perbuatan Columbus yang membantai orang2 Indian di benua Amerika, dan menyamakan strategi Columbus dengan strategi kalifah Islam, yaitu penaklukan wilayah dan pemaksaan agama pada penduduk asli.

Morison dalam papernya mengutip perkataan Columbus mengenai motif religius ekspedisinya. Dalam catatannya yang ia tujukan pada Isabel Sang Katolik, Ratu Kastilia Spanyol, Columbus menulis; “Penghormatanku kepada Yang Mulia Ratu, bahwa semua hasil jerih payah dari perjalananku ini haruslah ditujukan untuk merebut kembali tanah suci Yerusalem”. Pertempuran berkepanjangan antara Nasrani dan Islam memang merubah pola pikir masyarakat Eropa abad pertengahan. Bedanya kini orang orang Nasrani mengakui kesalahan masa lalu mereka. Paus Fransiskus misalnya, sebagai pimpinan tertinggi agama, memohon maaf kepada dunia atas konflik berdarah dimasa lalu yang mengatas namakan agama dan Tuhan.

Lalu bagaimana ajaran perang dalam agama Yahudi? Dalam sejarah Bible, bangsa Yahudi pernah melakukan beberapa peperangan. Ketika Yosua menundukkan Yerikho, “Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba dan keledai.” (Yosua 6:21). Dan ini juga dilakukan atas perintah agama, atas perintah Tuhan. Tapi Yahudi adalah agama eksklusif, pemeluknya terbatas kepada mereka yang lahir dari bangsa Yahudi, yang mengklaim diri sebagai “bangsa terpilih” (QS Al-Baqarah: 47). Dan perang2 yang mereka lakukan hanya terkait dengan “tanah perjanjian” (QS Al-Maidah: 21), daerah yang dijanjikan Tuhan kepada Ibrahim dan keturunannya, bangsa terpilih tersebut.

Tanah perjanjian yang direbut atau dipertahankan dengan peperangan tersebut, dari dulu hingga sekarang, hanyalah seluas wilayah Israel Palestina modern kini. Meski berperang atas nama Tuhan adalah salah dan irasional, tapi jelas Yahudi bukanlah agama ekspansif, berperang untuk menyebarkan agama sekaligus memperluas wilayah taklukan. Bandingkan dengan Islam masa lalu, dari Arab, menyerang Persia (Iran), sampai ke Mesir, sampai ke India, bahkan sampai ke Eropa. Di India saja diperkirakan lebih dari 100 juta nyawa melayang akibat perintah ayat2 perang dalam Al-Quran, dan diperkirakan sebagai holocous terbesar sepanjang sejarah umat manusia.

Kini, setelah masa kejayaan Islam berlalu, hukumnya masih sama, karena perintah Al-Quran tidak berubah. Al-Maududi, ulama besar Pakistan, misalnya, menyatakan negara yang tidak menerapkan syariat Islam adalah masyarakat jahiliah dan dianggap telah kafir sehingga wilayah negara itu adalah darul harbi, medan perang. Serupa dengan itu, Abu Bakar Baasir, ulama Indonesia menyatakan bahwa Indonesia adalah darul harbi, sehingga kewajiban syariat bagi muslim hanya dengan satu jalan: jihad fisabilillah. Berdasarkan hukumnya, jihad terendah adalah melawan hawa nafsu, dan puncak segala ibadah adalah jihad dengan mengangkat senjata dijalan Allah. Dalam keadaan darul harbi, maka hukum jihad dengan mengangkat senjata adalah fardu ain (wajib). Maka wajar jika muslim-muslim kafah seperti Imam Samudra, atau Dr. Azahari menganggap mayoritas ulama dan muslim di Indonesia adalah pengecut, yang hanya cinta dunia dan takut mati, dengan menolak kebenaran Islam.

Disinilah nilai kemanfaatan Islam bagi prinsip-prinsip universal dipertanyakan, hingga akhirnya muncullah agama baru seperti Bahai yang menjunjung tinggi keesaan Allah dan humanisme, sebagai penyempurna Muhammad dan Al-Quran. Sekali lagi, kami tidak mengajak anda untuk mempercayai tuhan tertentu atau tidak mempercayai tuhan tertentu. Entah anda seorang Theisme, Non-Theis, Agnostik ataupun Atheis, ketika kita setuju dengan universalisme moral, kita berada dipihak yang sama. “Perlakukan orang lain sebagaimana kau ingin diperlakukan” inilah prinsip universal yang kita pegang. Jika kehidupan kita tidak bermanfaat bagi orang lain, setidaknya janganlah kita merugikan orang lain.
.
..
..INILAH BENDERA
..ARAB SAUDI

.


..
Apakah arti PEDANG

..dibawah kalimat
..syahadat?

................................

..BERIKAN KOMENTAR
..ANDA PADA KOTAK
..DI BAWAH INI :



Use avatars to show off your personality and favorite things.


..
Untuk DISKUSI atau
..DEBAT
, silahkan klik
..link dibawah ini:

FORUM DISKUSI DAN DEBAT ISLAM
.