ISLAM ADALAH ARABISASI DUNIA ~ FORUM MURTADIN INDONESIA

ISLAM ADALAH ARABISASI DUNIA

Di Indonesia kita sering mendengar istilah Islam Nusantara, Islam Indonesia, dan berbagai istilah lainnya, yaitu upaya untuk mempertahankan nilai-nilai Islam, dengan tetap mempertahankan ke”Indonesia”an, mempertahankan adat dan budaya Nusantara nya, dan menyisihkan ke”Arab”anya. Namun oleh sebagian kalangan hal ini justru dianggap sesat, mengapa? Silahkan browsing, akan ada banyak pandangan dari ratusan situs Islam tentang kesesatan upaya tersebut. Salah satu hal mendasar adalah karena  Islam tidak dapat dipisahkan dari Arab.

Marilah kita mulai dari contoh yang sederhana yaitu shalat. Apakah diberbolehkan shalat menggunakan bahasa selain bahasa Arab? Beberapa waktu lalu terdapat beberapa muslim yang kedapatan shalat menggunakan bahasa Indonesia, dan akhirnya divonis 2 tahun penjara dengan pasal penodaan agama. MUI pun telah memfatwakan bahwa shalat menggunakan bahasa Indonesia adalah sesat. Dalam hal bahasa, shalat tidak dapat dilepaskan dari Arab. Selanjutnya tentang kiblat, jika kita telah mengetahui arah kiblat, bolehkah shalat tidak sesuai dengan arah kiblat? Di Indonesia terdapat kasus dimana sekelompok orang shalatnya menghadap ke selatan, lalu dianggap sesat oleh MUI. Jadi dalam hal kiblat, shalat tidak dapat dilepaskan dari Arab, karena Kabah berada di Mekah Arab.

Mengapa Islam sangat mengistimewakan Arab? Apakah hanya karena Islam lahir di Arab? Dalam hadis disebutkan bahwa shalat di Mekah, pahalanya 100.000 kali lebih besar daripada shalat ditempat lain. Artinya dua kali saja kita melakukan shalat di Mekah, pahalanya sama dengan pahala shalat kita seumur hidup di Indonesia. Mengapa Arab mendapatkan keistimewaan begitu besar dalam Islam, jawabannya akan kita temukan dalam uraian berikut.

Dalam artikel terdahulu telah disebutkan mengenai perubahan pesan Muhammad, dari sebelum hijrah Madinah, dengan setelah hijrah Madinah. Dari yang awalnya hanya gerakan spritual, kemudian menjadi gerakan militer dan politik. Selama 13 tahun menjadi pemimpin spiritual di Mekah pengikut Muhammad hanya sekitar 100 hingga 150 orang, namun kurang dari 5 tahun setelah menjadi pemimpin militer, pengikutnya berlipat menjadi ratusan ribu. Gerakan militer ini sukses karena sistem yang kita kenal dengan Ghanimah (barang jarahan), dimana banyak orang bergabung agar cepat kaya dengan cara instan. Disini Muhammad lebih sukses sebagai pemimpin militer daripada pemimpin spiritual. Secara politik Muhammad memakai pendekatan yang menarik bagi orang-orang berjiwa patriot seperti Abu Bakar dan Umar. Perhatikan beberapa hadist berikut;

Dinarasikan oleh Jabir b. Samura yang berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Islam akan terus berlanjut untuk mencapai kejayaan hingga dipimpin 12 orang kalifah”. Kemudian Rasulullah SAW mengatakan sesuatu di mana aku susah memahaminya. Aku bertanya pada ayahku: "Apa yang dia katakan?" Dia berkata: "Dia bersabda bahwa semua dari mereka (12 kalifah) akan berasal dari bani Quraish (Arab)." (Hadis Muslim 4480)

Muhammad menegaskan kembali bahwa kekalifahan (pucuk pimpinan dunia) akan tetap di tangan Arab sekalipun penduduk dunia tinggal 2 orang.

Dinarasikan oleh Abdullah bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Kalifah akan tetap ada di antara bani Quraisy (Arab) sekalipun apabila tinggal 2 orang saja yang tersisa di bumi." (Hadis Muslim 4476)

Jadi Islam adalah sarana untuk mewujudkan Quraish yang menguasai dunia. Nasionalisme sempit inilah yang membawa kejayaan kepada suku Quraish, dan akhirnya membawa kejayaan Arab sebagai sebuah bangsa. Awalnya Muhammad meniru ajaran Yahudi dengan menyatakan Yerusalem, kota Yahudi paling sakral, sebagai kiblat bagi para pengikutnya. Mengapa awalnya shalat Islam menghadap kearah yang sama dengan shalat Yahudi dan Nasrani pada masa tersebut? Mengapa tidak langsung menghadap ke arah Kabah? Akan banyak jawaban atas pertanyaan ini, salah satu kemungkinan paling rasional adalah yang dinyatakan oleh ulama-ulama gereja pada abad 7 bahwa Islam awalnya adalah sebuah aliran atau sekte dalam Nasrani, sehingga ritual ibadahnya adalah hasil sinkretisme antara ibadah Nasrani dan ibadah kafir.

Beberapa waktu kemudian Muhammad memerintahkan agar muslim berkiblat kearah Kabah. Apakah tujuan pemindahan arah kiblat hanya untuk mengetahui muslim mana yang tidak taat pada perintah Muhammad, seperti yang tersirat dalam Al Baqarah 143?  “Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot”.

Tafsir dari ayat ini, jelas mengungkapkan bahwa perubahan kiblat dari Yerusalem ke Kabah bukan karena kehendak Allah namun karena keinginan Muhammad. Hadits Muslim 31:5903 menunjukkan bahwa perubahan kiblat ini disarankan oleh Umar bin Khatab, dimana pada saat itu kuil Kabah masih dihuni oleh ratusan patung, yang artinya saat itu para muslim justru shalat sujud kepada para berhala. Perubahan arah kiblat ini jelas menyenangkan hati orang-orang Quraish.

Kabah adalah tempat kebanggaan Quraish, kuil kebanggaan Bani Hasyim, suku dimana Muhammad berasal. Apakah benar kuil Kabah adalah peninggalan Adam dan Ibrahim? Klaim seperti ini nyatanya tidak didukung bukti sejarah, namun hanya pernyataan sepihak dari Muhammad sendiri. Bani Hasyim adalah turunan dari Bani Abdul Manaf, dimana Abdul Manaf artinya adalah abdi (hamba) dari Manaf". Sedangkan Manaf adalah salah satu dewa yang puja oleh suku-suku Arab pada masa pra-Islam. Baik Allah, Manat, Al Lata, dan Al Uzza adalah nama dewa-dewi yang telah disembah oleh nenek moyang Muhammad sebelum lahirnya Islam, seperti yang dijelaskan dalam artikel mengenai DEWA BULAN di situs ini.

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?(QS. 53: 19-20)

Jelas bahwa Muhammad dan nenek moyangnya adalah penganut paganisme, namun karena masifnya penyebaran agama kristen pada abad ke 6, hingga Mekah yang adalah salah satu pusat polytheisme Arab saat itu juga terkena dampak dari hal tersebut. Contohnya sebelum Muhammad lahir, Alquran menyebut mengenai Abrahah dan Pasukan Gajahnya, yaitu seorang Kristen yang berencana menghancurkan kekafiran di Kabah dengan patung-patung pagannya. Toh sejarah versi Alquran menyatakan bahwa Allah justru melindungi kuil Kabah dan patung-patungnya dengan mengirimkan burung ababil yang membawa batu panas untuk membunuh pasukan Abrahah (Surat Al Fiil).
Jika benar Kabah didirikan oleh Adam, Ibrahim ataupun Ismael, adalah aneh jika orang-orang disekitar Mekah, tidak mengetahui sejarah ini, sampai akhirnya Abrahah hendak menghancurkan kuil tersebut. Jadi kisah Ismael membangun Kabah adalah kisah yang diciptakan belakangan,  dengan menghubungkan Kabah dengan Ibrahim maka hal ini mengangkat derajat spiritual Kabah dan Mekah melebihi Yerusalem dan Baitullahnya.

Terdapat banyak ayat dan hadis yang diciptakan untuk mengangkat derajat Mekah, salah satu contoh adalah; “Allah telah menjadikan Kabah, rumah suci itu sebagai pusat bagi manusia….” (QS Al-Maa’idah 97). Tafsir ayat ini menjelaskan bahwa Mekah adalah pusat alam semesta, bukan hanya pusat bumi, karena melalui Kabah Allah menurunkan rahmatnya. “Sungguh Allah menurunkan pada setiap hari dan malam 120 rahmat di Kabah ini. 60 rahmat untuk orang yang melakukan tawaf, 40 rahmat bagi orang yang menunaikan sholat, dan 20 rahmat bagi orang yang memandang ke arah Kabah.” Begitu sakralnya Kabah hingga muslim dilarang untuk menghadap atau membelakanginya pada waktu buang hajat, jika larangan ini dilanggar maka Allah mengancam akan memberikan azab yang pedih.

Kaum Yahudi sujud kearah Yerusalem untuk menunjukkan loyalitas dan kesetiaan kepada tanah air mereka, konsep inilah yang hendak ditiru Muhammad bagi agama dan pengikutnya. Perubahan arah kiblat dari Yerusalem ke Kabah menunjukkan apa sebenarnya maksud Muhammad: muslim-muslim diluar Quraish tidak boleh punya kiblat yang menunjukkan sifat khas mereka sebagai sebuah suku bangsa tersendiri. Mereka harus menganggap Mekah sebagai PANDANGAN HIDUP mereka dan dengan demikian menerima hukum serta kebudayaan Mekah dan menanggalkan tradisi nenek moyang asal mereka.

Muhammad menyatakan; “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” Jadi muslim haruslah serupa dengan kaum Quraish, serupa dengan orang Arab, karena budaya non Arab tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tahukah anda apa artinya ini dalam praktek ? Akhirnya tindakan ini mengangkat derajat Mekah menjadi tempat penghormatan spiritual tertinggi. Muslim dari berbagai bangsa menyembah kearahnya, tidak hanya lima kali sehari namun setiap saat sesuai dengan zona waktu berbeda-beda mereka diplanet ini. Tindakan kebiasaan menyembah ini memperbudak jiwa, membuat kita secara tidak sadar patuh ke Mekah, menyembah tempat kelahiran Muhammad dan mengurangi kekuatan memakai otak kita.

Biasanya satu bangsa harus menundukkan bangsa lain dengan kekuatan senjata; yang ditundukkan membenci yang menaklukkan dan ingin merdeka, tapi dalam hal ini, semua muslim non arab mengucurkan air mata memohon agar diterima sebagai budak budaya Arab! Bukankah ini contoh klasik seekor domba yang memohon pada penjagalnya agar segera dituntun kerumah jagal? Sadar akan kerapuhan manusia, sang nabi memaksakan tekanan psikologis pada para pengikut non arab dengan mewajibkan mereka untuk melepaskan budaya asal mereka dan sebagai gantinya memakai budaya arab.

Inilah nasib bagi semua negara non-Arab dimanapun Islam masuk lewat pedang, migrasi atau propaganda. Diwilayah itu, Muslim berkewajiban memberlakukan dominasi kebudayaan ARAB, dengan cara menempatkan semua tradisi budaya setempat mereka dibawah budaya Arab, mengadopsi hukum Islam, mempelajari bahasa dan gaya Arab, mencintai Mekah dan Arab. Lebih parah lagi, mereka harus membenci budaya dan tanah air mereka sendiri sedemikian hingga tanah airnya menjadi Dar-ul-Harb, yakni Medan Perang. Ini berarti bahwa mereka harus mendirikan tenda musuh ditanah air mereka sendiri dan memerangi bangsa mereka sendiri sampai bangsa mereka semua menyerah pada imperialisme budaya Arab dengan cara memeluk Islam.

Hanya jika demikian sajalah maka negara tersebut akan menjadi Dar-ul-Islam, yakni Medan Damai. Jika tidak maka tanah air tersebut akan terus menjadi Medan Perang (Dar-ul-Harb) dimana pembunuhan dan pemerkosaan non muslim dianggap sebagai perbuatan baik. Tanah Air! Apa itu Tanah Air? Tanah dimana seseorang lahir, dibesarkan, tinggal dan menghabiskan hidupnya, itu semua dianggap sebagai lelucon besar di mata mereka yang terkena Arabisasi. Para muslim non arab ini mengembangkan perasaan benci kesumat kepada budaya dan tanah air mereka sendiri, dan menganggap budaya tanah airnya sebagai budaya jahiliyah.

Lihatlah Mesir, tanah dari para Firaun yang perkasa, dimana keunggulan kekaisaran mereka menjangkau masa 3000 tahun. Tanah indah, penuh sains, seni, budaya dan tingkah laku para dewa ini berubah dan menukik tajam hingga hampir menyentuh titik nadirnya ketika Islam mengambil alih. Tidak ada orang Mesir asli lagi. Mereka semua berubah menjadi orang Arab!

Atau simaklah halaman bersejarah dari orang Persia (Iran). Kerajaan megah mereka berlangsung berpuluh abad lamanya. Begitu besar kerajaan mereka hingga tidak ada yang menyamainya dalam ukuran sampai Inggris muncul dalam kancah internasional 3000 tahun kemudian. Sumbangan mereka bagi perkembangan hukum di Romawi, kebudayaan Yunani dan tradisi2 di Asia tidak dapat dihitung. Mereka menghasilkan pemimpin-pemimpin spiritual seperti Zaratushtra yang kebijakannya sampai mempengaruhi agama2 besar seperti Yudaisme dan Kristen.

Tapi begitu Islam menjajah Persia, orang Arab menyita semua kekayaannya melalui sistem yang telah terbukti keefektifannya, yaitu melalui pembagian harta jarahan, termasuk menjarah wanita-wanita cantik molek dan merebut karya penyair dan ilmuwan ternama Iran yang telah banyak menyumbang keindahan bagi tradisi dan ilmu pengetahuan dunia.

Setelah itu, budaya Persia lenyap dari muka bumi. Semua kejayaan budaya dan politiknya dimusnahkan oleh orang-orang Iran sendiri yang di-Arabisasi dan akhirnya membenci kebudayaan mereka sendiri. Mereka lebih suka menjadi muslim dengan janji-janji berseks ria dengan 72 perawan abadi, anak-anak lelaki cantik dan arak-arak lezat yang disebut dalam Alquran. Mereka menghujat nabi mereka sendiri, Zaratushtra dan Mani. Mereka membangun mitologi mereka sendiri yang dikenal sebagai Syiah, yang secara total berdasar pada lambang, cinta dan tradisi para pahlawan Arab, khususnya anggota keluarga langsung Muhammad (Ahlul Bait). Sejak itu, bangsa Iran kehilangan jiwa Persia mereka. Mereka telah dicabut dari kebesaran Persia, mereka bukan lagi orang-orang Iran yang hebat seperti sebelumnya. Tidak ada lagi yang bisa jadi sumber inspirasi mereka kecuali jika hal itu didasarkan pada penjilatan terhadap orang Arab. Revolusi Islam dari Imam Khomeini adalah contohnya.

India adalah korban lain Islam. Saat Muhamad bin Qasim menginvasi wilayah Sindh, ini adalah saat yang paling buruk, paling menyengsarakan dalam sejarah bangsa ini. India, obor peradaban dunia yang punya tradisi hebat yang sebelumnya menikmati kehangatan “ahimsa”, kehangatan Hindu dan Budha, kemudian disengat oleh penjajah Arab yang doyan merampok dan memperkosa, sesuai dengan yang Alquran perintahkan.

Ironisnya semua pembunuhan yang mereka lakukan itu diatasnamakan pada Allah yang mereka sebut “maha adil dan penyayang”, yang menganggap orang2 golongan tuhan ini sebagai orang-orang yang bertindak adil dengan menyiksa orang kafir. Lalu, tanah ini tidak lagi seperti semula, orang-orang Hindu dan Budha yang tak mau mengakui Islam dibantai, darah mengalir dimana-mana, sejarah mencatat 80.000.000 (80 juta) orang meninggal akibat upaya Arabisasi ini. Islam telah mencabut Budha sampai keakar-akarnya, hingga punahlah Budhisme dari tanah asalnya.

Meski upaya Arab menjadikan India sebagai Imperium Theokrasinya gagal, namun mereka berhasil menancapkan doktrin Islam di sebagian wilayah tersebut. Mereka yang telah terdoktrinisasi ingin memisahkan diri membentuk negara muslim tersendiri, mendedikasikan kepercayaan mereka pada tanah air sebagai Dar-ul-Harb, dengan memusuhi bangsa mereka sendiri!

Ideologi inilah yang menyebabkan pecahnya India menjadi Pakistan. Upaya divide et impera yang gagal dilakukan oleh orang Arab justru sukses ditangan orang-orang India sendiri. Itu sebabnya Islam adalah alat abadi penyebaran Imperialisme Arab, tidak lagi diperlukan pedang, tidak lagi diperlukan senjata, cukup dengan mengatas namakan agama Allah.

Kita harus ingat bahwa Islam adalah duta permanen dari agama, sosial dan politik. Alquran menyatakan:

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian … sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS 9:29)

Kesiapan perang terhadap non muslim ini memang telah menjadi motivasi Islam, tapi hal ini akan musnah dengan datangnya nabi lain. Tapi inipun sudah dipikirkan Muhammad. Dia menutup lubang kelemahan ini dengan cara yang lazim. Dia umumkan dirinya sebagai nabi terakhir, yakni tidak akan ada nabi lain lagi setelah dia dan dengan demikian tak ada orang seperti Ahmad Gulam Mirza (Ahmadiah) atau Bahaullah (Bahai) yang dapat MENGUBAH HUKUM KEBENCIANNYA MENJADI HUKUM DAMAI, sesuai dengan masing-masing tanah air bangsa terjajah itu sampai tanah itu berubah menjadi Darul Salam.

Disinilah inti masalahnya, sebuah bangsa bisa dibenci, disakiti dan dipermalukan jika tidak memeluk Islam, tapi begitu mereka memeluk Islam mereka menjadi budak budaya Arab karena didalamnya terdapat rumus-rumus penolakan terhadap tradisi tanah airnya sendiri. Dimasa kini semakin banyak orang yang percaya bahwa budaya nenek moyang Indonesia adalah budaya jahiliyah yang harus ditinggalkan dan diganti dengan budaya Arab yang mulia. Semakin banyak orang yang meninggalkan bahasa ibu mereka, bahasa-bahasa daerah, dan memuliakan bahasa Arab yang adalah bahasa Alquran yang dipercaya sebagai bahasa penghuni surga. Karenanya tak heran ketika terdapat orang yang shalat menggunakan bahasa Indonesia justru dianggap sesat dan divonis 2 tahun penjara.

Arabisasi adalah dilema bagi sebagian muslim di Indonesia, karena itu lahirlah kelompok-kelompok yang menyebut dirinya sebagai Islam Nusantara, Islam Indonesia, sebagai jalan tengah atas dilema ini. Sebagian muslim lainnya menunjukkan ajaran Islam yang sesungguhnya, hingga muncullah gerakan-gerakan seperti DI/TII, GAM, dan sebagainya, yang memerangi dan membunuh saudara-saudara setanah air mereka sendiri demi mewujudkan Darul Islam. Jadi setuju atau tidak, suka atau tidak, faktanya Islam adalah Arab, Islam tidak dapat dipisahkan dari Arab, karena Islam adalah alat bagi kejayaan Arab.

.
..
 DUKUNG KAMI
 DENGAN DONASI




 BERIKAN KOMENTAR
 ANDA PADA KOTAK
 DI BAWAH INI :



Use avatars to show off your personality and favorite things.


 Untuk DISKUSI atau
 DEBAT
, silahkan klik
 link dibawah ini:

FORUM DISKUSI DAN DEBAT ISLAM
.